Oleh: Desi Rahmawati
Hari ini merupakan hari yang sangat bersejarah sepanjang aku menginjakkan kaki di bumi, selama aku bebas menghirup oksigen di udara. Lebay? Alay? Mungkin sebagian orang ada yang berpikiran seperti itu, tapi sudahlah, aku hidup berpijak dengan kakiku sendiri, untuk apa menghiraukan pandangan dari orang lain yang belum tentu tahu segalanya tentang aku. Hari ini aku berhak bahagia, karena aku akan segera menjadi permaisuri sehari dihadapan orang dan tentunya suamiku sendiri, pangeran berwajah sendu yang selama ini kurindukan.
Semilir angin perlahan menyapu wajahku yang tersipu malu. Malu karena disampingku terdapat sesosok lelaki yang selama ini selalu kurindukan di dalam doa, sosok yang selalu ku pinta disetiap sujud malamku, dan sosok yang telah dipilihkan oleh-Nya untukku. Perlahan kulirik wajahnya dari sudut mata, wajahnya yang terpahat sempurna terlihat teduh membuatku nyaman berada disampingnya. Entah karena lirikan mataku yang tidak sempurna atau apalah, aku melihat senyum simpul yang hampir tak terlihat di wajahnya. Beberapa detik kemudian, lirikan mata kami bertemu dalam satu titik, spontan aku menolehkan pandangan ke arah lain. Mukaku bak kepiting rebus, merah karena malu dan karena udara siang hari yang semakin terik.
Kualihkan pandangan ke sekelilingku, semuanya serba kuning, baik hiasan pelaminan maupun baju pengantin yang kami pakai. Memang, masyarakat melayu Sambas sangat identik dengan warna kuning, keraton dan makam raja juga bernuansa kuning. Kata ibuku, kuning itu warna khas kerajaan melayu Sambas. Tak lama kemudian, kuedarkan pandangan  kedepan tarup, disana ada dua buah tarup yang berdampingan, satu untuk bapak-bapak, dan satunya lagi untuk ibu-ibu dengan anak-anaknya. Sejenak kuberpikir bahwa pada adat istiadat masyarakat Sambas sebenarnya sudah tertanam nilai religius, konsep untuk tidak bercampur antara perempuan dan laki-laki sudah ada disana.
Semua orang terlihat sibuk, ada yang datang mengantar makanan, ada juga yang duduk menunggu makanan datang. Ibu-ibu sudah siap membuat lingkaran untuk makan besaprah. Ya, tradisi makan besaprah sudah mulai terkikis saat ini, hanya bisa ditemukan di acara pernikahan di desa-desa. Sedangkan di kota Sambas, tradisi ini sudah mulai terkikis oleh tradisi makan dengan cara prasmanan. Tradisi besaprah sangat kental dengan kebersamaan dan tenggang rasa. Kenapa begitu? Karena makanan yang dihidangkan sudah diatur porsinya untuk 6 orang, minuman berjumlah 6, piring berjumlah 6, sehingga dalam satu lingkaran tidak lebih dan tidak kurang dari 6 orang. Dengan makan bersama, tentunya bisa mengeratkan tali silaturahim baik yang sudah kenal maupun yang baru mengenal.
***
            Akirnya selesai sudah aku menjadi permaisuri sehari, saatnya aku dan suami tercinta beristirahat melepas penat yang menjalar diseluruh tubuh. Hanya ada aku dan dia diruangan ini, sulit untuk menepis rasa canggung yang mulai menyusuri aliran darahku hingga jantungpun berdetak lebih kencang dari biasanya, menyebabkan aliran darah berselancar dengan bebasnya di bawah kulit hingga membuat pipiku bersemu merah. Kulihat dia sedang duduk bersila bersandar di atas dipan sambil sibuk dengan sebuah kotak kayu berukuran 20 x 10 cm di atas pangkuannya. Aku iri dengan kotak itu, seharusnya aku yang ada dipangkuannya, bukan Si kotak itu.
“Mi, ayo kesini, aku ingin menunjukkan sesuatu,” pintanya sambil menepuk kasur disampingnya. Memberikan tanda bahwa aku diminta untuk duduk disampingnya. Dengan segala hormat, aku menuruti titah rajaku. Ya, suami adalah raja. Apapun titahnya, selama itu tidak bertentangan dengan agama, maka aku harus menurutinya.
“Ada apa Bang?” Tanyaku sambil mendongakkan kepala berusaha mengintip apa yang ada dibalik kotak misterius itu.
“Sebelumnya, aku ingin bertanya. Kenapa kamu bersedia menikah denganku?” Pertanyaannya sontak membuat mukaku bersemu merah, seandainya Bang Farish tahu perasaanku yang sebenarnya, apakah….
“Kok bengong? Bingung ya mau jawab apa? Suara Bang Farish membuyarkan lamunanku.
“Kalau saya boleh jujur, sebenarnya sebelum menikah dengan abang, saya sudah terlanjur mencintai seseorang, seseorang yang namanya selalu kusebut di dalam doa, seseorang yang mampu membuat jantung bergemuruh saat mengingatnya. Seseorang, yang tak sanggup ku tatap saat bersua dengannya, seseorang yang selalu ku rindukan,” ujarku panjang lebar, tanpa terasa bulir-bulir air menetes dari pelupuk mataku mengikuti arah gravitasi bumi. Aku berusaha menatap manik matanya, wajah teduhnya yang seperti hujan, membuat suasana terasa membeku.
“Benarkah? Apakah kamu terpaksa menerima pinanganku? Wajah teduhnya berubah  menjadi mendung, bagaikan awan hitam yang sudah siap menumpahkan beban yang dikandungnya.
“Tidak, saya menerima abang dengan tulus,” jawabku.
"Lalu?”
“Itu karena “seseorang” yang saya maksud sedang menatap dan berbicara tepat dihadapanku saat ini,” jawabku sambil mencari mata teduhnya untuk meyakinkan dia bahwa aku sedang mengungkapkan cinta. Pertama kali dalam hidupku, mengungkapkan cinta pada seorang lelaki.
“Masya Allah, ternyata rencana Allah selalu sempurna,” ucap Bang Farish dengan binar mata yang sulit kudeskripsikan. “Aku ingin menceritakan sesuatu, kamu dengar baik-baik, karena hanya sekali ini dan tidak ada siaran ulang,” katanya sambil mengintimidasiku dengan tatapan teduhnya. Rasanya aku sedang berada di dunia lain, dunia yang selalu berubah, kadang teduh, kadang mendung, dan kadang hujan. Dadaku bergemuruh begitu hebat, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, apakah senang, karena baru pertama kalinya aku bebas menatap mata teduhnya, sepuasnya, sedekat ini, hanya berdua. Disisi lain, aku ketakutan bagaikan kelinci yang sedang diincar serigala. Bukan maksudku untuk mengatakan suamiku adalah serigala, itu hanyalah perumpamaan saja. Suamiku tetaplah seorang raja. Kutanggapi perintahnya dengan anggukan kepala.
“Apakah kamu masih ingat kejadian 7 tahun yang lalu, di kelas XII IPA 2?” Setelah mendengar pertanyaannya, mendadak kepalaku nyut-nyutan, bola mataku berputar-putar, otakku berhenti bekerja. ‘Kenapa suamiku mempertanyakan hal yang sudah lama sekali? Apakah dia mulai lelah?’ pikirku dalam hati, sambil berusaha mengingat kejadian 7 tahun lalu yang sangat tidak mungkin bisa kuingat. Banyak hal yang terjadi 7 tahun lalu, akhirnya aku menyerah, kugelengkan kepala dan ku kernyitkan keningku yang sudah tampak garis penuaan dini disana sebagai isyarat bahwa ‘aku tidak ingat apa-apa’.
“Hmm,, baiklah, mungkin pertanyaannya kuubah saja, apakah kamu masih ingat dengan pantun ini?
Kalimaok tumboh di batu
Ikan Gelamak kite gumpolkan
Asal maok kau ngan aku
Janji lamak kite battolkan

Bagaikan mesin waktu, ingatanku langsung melompat kemasa dimana aku pernah mendengar atau membaca pantun itu untuk pertama kalinya.



# 7 tahun lalu

Saat itu, hari Rabu pagi tanggal 24 Desember 2009. Ku kayuh sepedaku dengan kecepatan ekstra melewati Gerattak Sabo’ yang membelah sungai Sambas, kota dimana aku  mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas. Dengan napas yang terengah-engah kulewati tanjakan yang cukup tinggi dengan hati-hati karena jembatan ini sudah tua dan papannya sudah ada yang renggang sehingga salah langkah sedikit saja, ban sepedaku bisa terjepit diantara dua papan yang menganga. Sekali-kali kulirik arloji dipergelangan tanganku yang entah sudah berapa kali kulihat jarumnya terasa begitu cepat berputar, menunjukkan pukul 06.50, napasku terus memburu seakan-akan tiada lagi oksigen yang bisa kuhirup.
‘Crrrrttttttt!!!!!’ Ban sepedaku berdecit kuat saat ku tekan rem secara mendadak karena aku hampir saja melewati pintu gerbang sekolahku yang bertuliskan ‘Selamat Datang Para Penerus Bangsa.’ Setelah merapikan sepeda di parkiran, aku langsung mengambil langkah seribu dengan kedua tangan teracung ke belakang seperti saat Naruto – tokoh kartun favorit adikku – berlari dengan kecepatan tinggi. Samar-samar kudengar dari luar kelas suara seseorang sedang berpantun, tiba-tiba duniaku berubah menjadi horor karena guru “favorit” ku sudah berada disinggasananya.

Ikan sappat berannang rannang
Timbol nyambar si ulat bullu
Sirreh lippat ikat ngan bannang
Kiriman abang si dari ullu
**
Setelah mengumpulkan separuh nyawa yang hilang, aku memberanikan diri mengetuk pintu.
‘Tok tok tok’ Tanganku bergetar karena gugup. “Assalamu’alaikum, maaf bu saya terlambat, apakah saya boleh masuk?” Tanyaku dengan was-was.
“Wa’alaikumsalam Warahmatullah, masuk!!” Jawab Bu Dea, guru Bahasa Daerah yang terkenal judes, tatapan matanya semakin menciutkan nyaliku, tapi entah kenapa hari ini Beliau berbaik hati mempersilahkan siswa yang terlambat untuk masuk dikelasnya.
“Lanjutkan!” Perintah Beliau kepada temanku yang sejak tadi mematung di depan kelas.


Batang itok batang mempallam
Batang padi darilah Siam
Datang itok datang bemalam
Datang duddi silalu diam        

Ikan Sappat Ikan Gelamak
Nambah laok sambal belacan
Biar cappat ataupun lamak
Adek siap nunggu pinangan
**lagu daerah Sambas

 “Ami Nur Izzati, coba kau lanjutkan pantun temanmu tadi, pokoknya harus ada kata ‘IKAN’ di dalam sampirannya,” belum sempat aku mengatur napas, tiba-tiba suara Bu Dea mengejutkanku, terdengar sangat jelas kalau beliau memberi penekanan khusus saat mengucapkan kata ‘IKAN’. Sepertinya Beliau sedang mencari-cari kesalahanku. Dengan panik, aku mencoba merogoh laci meja, entah apa yang kupikirkan saat ini, hanya berusaha mengulur waktu agar ibu berubah pikiran. Namun, tanganku berhenti bergerak saat menyentuh sesuatu seperti amplop di dalam laci, tanpa pikir panjang lagi segera kurobek karena penasaran, aku heran kenapa otakku kadang tidak sinkron dengan anggota badanku sendiri. Apa otakku belum paham juga kalau nasibku sudah diujung tanduk? Kulirik kertas putih bertinta emas yang ada ditanganku, satu kedipan, dua kedipan, sepertinya mataku menangkap ada empat baris kalimat, dan di dalam kalimat itu ada kata ‘ikan’ disana, tanpa pikir panjang lagi segera kubaca dengan lantang.

Kalimaok tumboh di batu
Ikan Gelamak kitte gumpolkan
Asal maok kau ngan aku
Janji lamak kite battolkan

Tepuk tangan membahana di seluruh kelas, tiba-tiba aku merasa berada ditengah-tengah konser Ikimono Gakari – band Jepang yang banyak mengisi soundtrack anime - Fiuhhh,, lega rasanya bisa selamat dari cengkeraman maut Bu Dea.  


***
“Am, apa kamu tidak penasaran dengan penulis pantun misterius itu, jangan-jangan kamu punya pengagum rahasia ya?“ Bisikan Rosa terdengar menyeramkan ditengah enaknya mi ayam yang sedang ku santap.
“Ya enggaklah, mungkin aja itu pantun nyasar dari seseorang yang entah siapa dan dimana dia berada saat ini,” aku mencoba santai dan tidak terlalu ambil pusing dengan pantun itu, namun kata-kata dipantun itu begitu berkesan bagiku, karena ada ‘ikan’ yang telah menyelamatkanku dari Bu Dea, hahaha. Rosa cemberut karena tanggapanku tidak sesuai dengan harapannya. Antara harapan dan kenyataan memang kadang membingungkan. Semenjak kejadian itu, aku berubah menjadi penggila ikan gelamak sekaligus hobi menanam kalimaok, yaitu sejenis tanaman obat. Biasanya kakekku menggunakan tanaman itu sebagai obat alami untuk demam panas.
***
“Jangan-jangan, penulis pantun misterius itu adalah Bang Farish?” jeritku tertahan, ternyata selama ini pengagum rahasiaku adalah suamiku sendiri, selama ini aku juga menjadi pengagum rahasianya, yang hanya aku dan Dia yang tahu.
“Exactly!” Jawabnya sambil memamerkan deretan gigi seri yang tersusun rapi, ada lesung pipi di pipi kanannya yang membuatku semakin merona.
“Tapi kenapa Abang tidak menembakku? Seperti yang biasanya remaja lakukan kalau sedang kasmaran, Abang takut ditolak ya?” Godaku sambil memamerkan senyuman termanis yang kumiliki. Mumpung ada kesempatan, aku ingin membuatnya tersipu, tidak adil kalau dari tadi hanya aku sendiri yang menanggung malu, ahahahaha.
“Bukan, bukan itu alasannya. Abang tidak berani untuk mengajak orang yang Abang cintai jatuh ke dalam lubang yang sama,”
“Maksudnya, Bang?” Kata-kata Bang Farish selalu membuatku bingung, apakah karena otakku yang lagi virusan, atau karena otak Bang Farish yang kelewat canggih?
“Kamu tahukan kalau pacaran sebelum menikah itu haram hukumnya dalam Islam? Jadi, Abang tidak ingin mengajak my sweety ke dalam lembah dosa hanya karena kenikmatan semu. Saat itu Abang khilaf, sok misterius dan tidak gentleman sebagai laki-laki,” tukas Bang Farish, tampak raut kecewa di wajah teduhnya.
“Ooo,, berarti sekarang Abang sudah gentle, gitu?” Godaku lagi.
“Iya dong, kalau Abang tidak gentle, mana mungkin Abang bisa duduk disamping bidadari bermata jeli seperti saat ini,” Bang Farish balik menggodaku, skakmat. “Oya, Abang ingin menunjukkan sesuatu,” Bang Farish tampak sibuk mengacak-acak kotak kayu yang sedari tadi betah berada di pangkuannya. Tak lama kemudian, dia mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah lumayan lusuh.
“Ini surat cinta pertama Abang, dibaca ya,” pintanya. Aku segera menyambar kertas yang ada ditangannya, tiba-tiba api cemburu menjalar disekujur tubuhku.

Sambas, 28 Juni 2015

Sejak kapan rasa ini pernah ada?
Perasaan yang begitu mengganggu.
Perasaan menginginkannya lebih dari apapun.
Perasaan ingin meminta pada-Nya bahwa harus dia yang menjadi pendampingku.
Perasaan egois yang dengan lancangnya mencintai makhluk ciptaan-Nya.

Aku tak tau kapan cerita ini dimulai.
Aku juga tidak tahu apakah cerita ini sudah berakhir atau masih bersambung.
Ya, cerita tentang cinta yang selalu merajai pikiran anak muda, termasuk aku.

Dalam diam kadangku berbicara.
Dalam tenang hatiku bergemuruh.
Dalam sepi tangisku mengulum.
Entah kepada siapa rasa ini bermuara.
Kepada siapa hendak bertanya.
Sedangkan diri sendiri kadang ber maya.
Dalam ringkih kutuliskan kata pengobat duka.

Dia, yang punggungnya selalu kucari disetiap keramaian.
Dia, yang suaranya selalu mengusik sepiku.
Dia, yang khayalan tentangnya selalu terhadirkan disini, di dalam dada.
Dia, yang tak sanggup ku tatap saat bersua.
Dia, yang selalu memperlihatkan punggungnya saat bertemu denganku.
Dia, yang selalu kuekori dengan mata, selalu kucari hawa keberadaannya.



Dia, gadis yang tak berwajah, karena hanya punggungnya yang sanggup ku tatap.
Aku tak berani untuk menjelajahi setiap lekuk wajahnya.
Dia, yang hanya mampu kuciptakan dalam siluet di ujung doa.
Dia itu, KAMU!!

Untukmu wahai bidadariku, Ami Nur Izzati
Yang selalu merindukanmu,

Farish Syahid Izzudin

            Surat cinta Bang Farish membuatku tergugu, aku sangat bahagia karena ternyata selama ini kami memendam rasa yang sama. Rasa yang sama-sama kami simpan rapat-rapat, hanya Allah yang Maha Mengetahui perasaan kami masing-masing. Barulah ku tahu bahwa memendam rasa itu tidak selamanya menyakitkan, kesabaran akan selalu berbuah manis, sabar menanti pasangan hidup sambil memantaskan diri adalah pilihan terbaik bagi jomblowers yang istiqomah hingga akad menjadikannya sah. Tak henti-hentinya aku dan suami mengucap syukur atas cinta yang telah diberikan-Nya. Jika kau mencintai seseorang, kejarlah cinta-Nya, maka kau akan mendapatkan cintamu dengan cara yang luar biasa indahnya.
            Tak terasa kami berbincang hingga larut malam, hanya suara dentingan jam yang menjadi lagu pengantar tidur, perlahan mataku terasa berat untuk dibuka. Samar tapi pasti aku mendengar bisikan seseorang “Semoga Allah selalu memberikan keberkahan bagi rumah tangga kita, Uhibbuki fillah istriku tercinta, dulu, saat ini, hingga nanti,” air mataku menerobos keluar hingga membasai pipi. Ya Allah, semoga kebahagiaan ini bukanlah mimpi.
           
Untukmu yang jauh di sana….
Cinta… apa itu?
Sesuatu yang abstrak dan tak mampu ku lisankan dan kutuliskan.
Perasaan yang hanya bisa berdesakan di dalam dada, dan bergemuruh di kepala.
Begitu repotnya memiliki rasa cinta.
Cinta yang hanya aku dan Dia yang mengetahuinya, sedangkan dia?
Hanya menjadi objek yang selalu mencuri perhatianku, tanpa tahu bagaimana bertalu-talu hatiku saat menemukan hawa keberadaannya.
Begitu tidak adilnya mencintai, karena mencintai seseorang tidak semudah menunggu mentari terbit di pagi hari.

Ya Allah, jika namanya memang tertulis di lauhul mahfudz untukku, jagakan dia dan hatiku agar bisa bersatu di waktu yang seharusnya telah kau pilihkan untukku.
Seandainya aku mampu merobek langit, kan ku cari rahasia alam semesta.
Namun, aku punya zat yang Maha mengetahui segalanya.
Hanya kepadaMu aku berserah dan menceritakan keluh kesah.
Hanya Engkaulah yang sudi mendengar segala keluhan dan rintihan.
Hanya Engkau yang bisa menyimpan rahasia.
Hanya Engkau yang Maha mengetahui apa yang terbersit di dalam dada.
Jika memang akulah tulang rusuknya, bawalah aku menujunya saat aku dan dia sudah saling mencintai-Mu.
Karena apalah arti cinta manusia tanpa disertai cinta kepada sang pencipta.

Untukmu, pria yang mencuri perhatianku, hingga membuat-Nya cemburu.
Sebegitu hebatnyakah dirimu, hingga mampu membuat Dia cemburu?
Tolong, jangan kau usik ketenanganku dengan bayanganmu.
Tolong, jangan kau kotori hatiku dengan mantramu.
Tolong, bersabarlah wahai hati.
Menunggu memang lama, tapi akan ada saatnya kau kan mereguk kebahagiaan.
Karena lamanya waktu yang kau habiskan untuk menunggu.
Kan terbayarkan saat matamu dan matanya, bertemu dalam syahdu.

Untukmu pangeran teduhku, Farish Syahid Izzudin
Bulan yang mencintai Bumi,


Ami Nur Izzati


*SEKIAN*

0 Komentar