Indonesia Masih Kurang Membaca
Indonesia Masih Kurang Membaca
Ayat
pertama yang pertama kali yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah
iqra’, menurut Quraish Shihab dalam salah satu bukunya iqra’ bukan hanya sekedar membaca tapi
menghimpun. Gleen Dooman dalam bukunya “How to Teach Your Baby to Read”
menyatakan bahwa membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam
hidup, bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Begitu
banyak manfaat yang kita dapatkan dengan membaca. Dengan membaca kiata bisa
berada didalam suasana perang diponegoro, dengan membacaa kita bisa tau
pertempuraan di berlin, dengan membaca kita bisa menyelaam kedalam lautaan yang
sangat dalam tanpa haarus menyelam, dengan membaca kita bisa tau isi perut kita
tanpa harus dibedah, mambaca sangat penting sebagai bekal dalam menghadapi ketatnya persaingan di zaman
global.
Hingga
tahun 2012, minat baca Indonesia tergolong masih rendah. Data Badan Pusat
Statistik menyebutkan, hanya 18,94 persen penduduk Indonesia di atas usia 10
tahun yang mengakses informasi dengan membaca. Angka ini terpaut jauh
dibandingkan dengan akses informasi melalu televise yang mencapai 90,27 persen.
Dari segi anggaran, anggaran masyarakat Indoneia untuk membaca masih sangaat
rendah, salah satunya dilihat dari anggaran masyarakat indonesia untuk membeli
koran tidak lebih dari 2 triliun sedangkan anggaran untuk membali rokok 24
triliun, inilah bangsa kita, lebih suka menghisap daripada mencari ilmu. Sedangkan
jumlah buku baru yang terbit di indonesia hanya sekitar 8 ribu judul buku
pertahun. Jumlah itu jauh lebih rendah dibandingkan negara Asia Tenggara
lainnya, seperti Malaysia yang menerbitkan 15 ribu judul buku pertahun atau
Vietnam yang mencapai 45 ribu judul buku pertahun (laporan Media Indonesia,
19/4/2010). Ini tentu fakta yang menyedihkan. Bagaimana negri dengan penduduk
237 juta jiwa kekurangan buku, ini menunjukkan bahwa bangsa kita masih kurang
membaca.
Cara
untuk membudayakan membaca misalnya dengan membawa buku kemana-mana, selalu sediakan buku
didalam tas karena semakin dekat semakin baik, mambeli buku untuk perpustakaan
di rumah dan pastikan perpustakaannya rusak karna sering dibaca dari pada baik
tapi tidak penah dibaca, jika tidak bisa membeli kita bisa pinjam diperpustaan,
kita harus punya waktu khusus untuk membaca bukan waktu sisa. Kita juga harus
belajar yang fundamental seperti bagaimana membaca efektif, agar apa yang kita
baca bisa benar-benar diserap dengan baik.
Ciri bangsa yang maju adalah budaya membaca
dan menulisnya tinggi. Semoga bangsa ini dapat semakin membudayakan membaca
dengan demikian bangsa ini akan menjadi
suatu bangsa yang maju. Amin
Ismail
UshMan warga AMKS S.M. TSJAFIOEDDIN
0 Komentar